Adat adalah sebuah kebiasaan yang di lakukan secara terus menerus di sebuah wilayah, atau perorangan, begitupun bagi para penuntut ilmu, bagi merekapun sama memiliki beberapa adat istiadat yang melekat dan di lestarikan dari waktu ke waktu, apa sajakah adat istiadat dalam sebuah pesantren itu? mari kita simak di bawah ini :
Adat istiadat di pesantren salaf
Tidak boleh pulang sebelum 40 hari, kebiasaan yang di ajarkan dari masa ke masa bagi para santri yang baru masuk ke pondok adalah, mereka para santri baru tidak di izinkan untuk pulang atau di jenguk oleh kerabatnya selama santri baru tersebut masih dalam masa adaftasi dengan lingkungan pesantren, atau tempat tinggal barunya tersebut, dan kebiasaan ini di terapkan bertujuan agar sang santri mampu memaksakan diri untuk beradaftasi, dan melepaskan diri dari kebiasaan-kebiasaan lama yang telah melekat, dan di ganti dengan kebiasaan-kebiasaan yang baru, hal ini berdasarkan tafaulan (mengikuti hal baik) kepada para ulama terdahulu, dan asal usulnya mendasar pada kisah Nabi Musa yang sempat pergi ke sebuah gunung tursina untuk menyendiri, yang di tempuh selama kurun waktu 41 hari,
Hikmah dari pada kebiasaan ini, akan menciptakan kesadaran yang lebih tinggi dari pihak santri agar mampu memaksakan diri, meskipun harus menghadapi berbagai cobaan godaan dan rintangan yang akan meruntuhkan semangatnya dalam menimba ilmu di pesantren, yang memang pada dasarnya seluruh santri yang mondok itu kuat untuk senantiasa tinggal di pondok bukanlah berdasarkan kenyamanan atau betah tinggal di pondok, namun atas dasar memaksakan diri, dan kesadaran tinggi dari hati nuraninya masing-masng. untuk senantiasa patuh pada peraturan yang ada.
Harus membawa oleh-oleh saat baru pulang dari kampung halamannya, untuk para santri yang kesehariannya jauh dari kebebasan dalam memenuhi setiap keinginan pribadi, sebab keadaan yang memaksa, maka pasti kebebasan yang di batasi itu termasuk dalam masalah pengeluaran keuangan, karena tidak sedikit dari kalangan santri yang berada dalam keterbatasan ekonomi, sehingga keinginannya dalam membeli sesuatu yang dia inginkan sungguh sulit untuk terpenuhi, dari hal tersebut tidak terlepas dari keinginannya untuk jajan atau pergi ke sebuah toko perbelanjaan, untuk membeli makanan kesukaannya, dan keterbatasan tersebut mendorong para santri untuk menciptakan momen kepulangan para santri yang lainnya, agar ketika pulang dari rumah untuk membawa oleh-oleh berupa makanan atau apapun itu, yang di senangi oleh teman-temannya. dan penyebutan oleh-oleh ini adalah adrahi atau halawa.

