Awal mula berdirinya pondok pesantren Darul Azhar

Nurul Huda Media
0

                                              dokumentasi saat perayaan 12 maulid nabi muhammad saw
                                                         di ambil pada hari minggu tanggal 23 september 2024


    Mungkin apabila bercerita tentang asal-usul sebuah lembaga akan sedikit menarik, karena kita akan semakin mengenal tentang portopolio, begitupun tidak menutup kemungkinan akan membawa kita pada pengenalan kualitas dan kuantitas sebuah lembaga

    Seperti hal nya lembaga-lembaga lainnya, Ponpes Darul Azhar merupakan sebuah pondok pesantren yang di rintis dari nol, dan mengalami proses yang cukup panjang, sebelum kini mampu untuk berdiri, dan lembaga ini menampung para santriwan santriwati yang bersedia menuntut ilmu, lalu untuk mengenal lebih lanjut seputar profil pondok pesantren ini, mari kita simak kisah berikut :


1. AWAL MULA BERDIRI PONDOK PESANTREN

    Di dasari oleh keinginan sesosok dermawan yang merupakan seorang kiyai sekaligus hartawan dan sarjanawan yang memiliki sebidang tanah yang cukup luas, yang mana beliau bernama : Drs.Saiful Azhari, dan beliau kira-kira telah menginjak usia 50 tahunan, beliau berniat untuk mendermakan seluruh tanah yang merupakan tanah berupa pesawahan, dan kolam perikanan, berikut tempat kediaman beliau sendiri, adapun motif dari keinginan beliau untuk mewakafkan ini adalah di sebabkan beliau ini merupakan seorang suami dari dua orang istri, yang dari keduanya tidak di anugrahi seorang anak pun, dan sudah pasti tidak ada seorang pun yang akan menjadi sosok ahli warisnya kelak, selain daripada para istrinya sendiri, dan para kerabat kerabat terdekatnya, mungkin melihat keadaan tersebut, beliau ingin menginvestasikan kekayaan beliau untuk kepentingan akhirat kelak, dan dari sanalah beliau bermaksud untuk memberikan seluruh tanah beliau kepada sosok ustadz yang di harapankan akan mengurus seluruh kepentingan dalam mendirikan pondok pesantren ini, yang pada awalnya beliaupun sempat merintis sebuah tempat majlis menuntut ilmu yang di beri nama DARUL AZHAR, nama tersebut pada penuturan beliau yaitu hasil dari adaptasi sebuah universitas terbesar di kairo yang bernama AL-AZHAR, dengan nama tersebut, beliau berharap kedepannya pondok pesantren yang ia bangun itu dapat menjadi sebuah lembaga yang besar dan termashur layaknya universitas ternama tersebut, 

    Dan pada keberlangsungannya, pondok tersebut pada akhirnya padam, atau tidak berlangsung lama, di sebabkan oleh para santrinya yang memutuskan pendidikan dengan menikah dan keluar satu persatu, dan tinggal menyisakan sebuah madrasah yang sesekali aktif di isi oleh para pencari ilmu di sekitar lokasi, atau yang sering kali di beri nama para santri kalong ( yang mengaji pada waktu maghrib dan shubuh ), dan padamnya pesantren yang telah beliau rintis ini sekitar 23 tahun lalu yaitu betepatan dengan tahun 2002 masehi, 23 tahun kemudian, beliau di pertemukan dengan sosok ustadz bernama Rafi yang merupakan ustadz muda, asal kampung takokak cianjur, yang kini bermukim di kampung andir2 cianjur, yang sekaligus seorang menantu dari pemilik pondok pesantren NURUL HUDA ARRAHMANIYYAH, di balik citranya sebagai ustadz muda, beliau pun senantiasa ikut bersosialisasi dengan para pejabat-pejabat kantor yang mengurus seputar administrasi kemasyarakatan, dan kenegaraan, hingga beliau di pertemukan dengan sosok Kh. Saeful Azhari, dan menurut penuturan beliau, hubungan di antara keduanya sudah sangat dekat, sehingga beliau sendiri telah di anggap anak angkatnya, dari sanalah awal dari sebuah mandat yang di berikan Drs. Saeful Azhari kepada ustadz Rafi, selaku anak angkat beliau, agar dirinya mampu untuk mengelola wilayah sekitar kediaman Drs.Saeful Azhari, hal itu mengingat status beliau yang mumpuni dalam hal kepengurusan lembaga, dan telah mendapat sebuah kepercayaan lebih dari sang ayah angkat, namun pesan yang beliau terima tidak begitu saja di terima, mengingat usia beliau yang masih muda pada waktu itu yaitu menginjak usia 30 tahun, maka melalui pertimbangan yang cukup dalam, pada akhirnya mandat tersebut di alihkan kepada sosok mertua beliau sendiri, yang bernama Bpk, Asep saefuddin spdi. yang tengah menjadi pengurus, sekaligus pemilik lembaga pendidikan bernama NURUL HUDA ARRAHMANIYYAH, dan setelah mandat tersebut di alihkan kepada sosok mertua, di sanalah tercipta sebuah persetujuan yang menghasilkan keputusan bahwa akan ada sebuah perencanaan pembangunan pondok pesantren berbasis yayasan di lokasi tanah yang di wakafkan, yang nantinya sekaligus menjadi cabang dari pondok pesantren NURUL HUDA  ARROHMANIYYAH.

Adapun lokasi tanah yang di wakafkan tersebut yaitu di sebuah kampung bernama rawa salak, desa cikondang, kec. bojong picung kab.cianjur. 

Posting Komentar

0 Komentar
Posting Komentar (0)