Kitab Asmawi Ciri i'rob rofa' dhomah

Matan Kitab :

fa ammaddhomatu fatakunu a'lamatan lirrof'i fi arba'ati mawadhi'a fil ismil mufrodi wa jam'ittaksiri wa jam'il muannatsissalimi wa fi fi'lilmudhori'i alladzi lam yattasil bi akhiri syai'un 

Arti Matan :

maka adapun dhomah keberadaannya menjadi ciri bagi i'rob rofa' dalam empat tempat yaitu dalam isim mufrod, jama' taksir, jama' muannatssalim, dan fiil mudhore yang tidak bertemu di akhirnya dengan apapun

Penjelasan Matan :

    Ciri i'rob yang perama yaitu dhomah, dirinya menjadi ciri bagi i'rob rofa' dalam 4 tempat, yaitu isim mufrod, jama' taksir, jama' muannats salim, dan fi i'l mudhori yang belum bertemu dengan alif dzomir tasniyyah, wawu dzomir jama' dan iya dzomir muannatsah mukhotobah, nun dzomir jama' niswah, dan nun taukid tsakilah, dan nun taukid khofifah.. dan untuk penjelasan lebih perincinya sebagai berikut :

1. isim Mufrod
   
    Isim Mufrod adalah " ma laisa mutsanan wala majmu'an wa la mulhaqon bihima wala minal asmail khomsati awissittah" yang artinya kalimat yang bukan isim tasniyyah dan bukan pula isim jama' dan bukan sebagian dari isim lima atau isim enam, sebagai contoh kalimah isim mufrod yang tengah di i'robi dengan i'rob rofa' seperti pada lafadz qoma zaidun yang artinya telah berdiri zaid, pada kata tersebut lafadz zaid ini yang tengah di rofa'kan, karena posisinya sebagai fa i'l atau pelaku dari sebuah pekerjaan, sementara fa i'l itu merupakan isim yang di rofa'kan maka dirinyapun harus di rofa'kan,.lalu lafad zaid ini di beri ciri i'rob rofa'nya yaitu dengan dhomah, atau dengan harkat dhomah dzohiroh (yang terlihat),

2. Jama' Taksir

    Jama' Taksir adalah "Ma taghoyyaro a'n bina i mufrodihi " yang artinya kalimat yang berubah dari bentuk mufrodnya, seperti pada kata ja a rijalu, yang artinya telah datang para lelaki, pada kata rijalu di sana, kalimat tersebut merupakan kalimat jama' taksir karena merupakan kalimah yang berubah dari bentuk mufrodnya, karena asal mufrod dari kata rijalu ini adalah rojulun ( satu orang lelaki ), lalu di jama'kan menjadi rijalu ( para lelaki ), dan dalam pembahasan jama' taksir ini apabila di perinci perubahannya dari lafadz mufrod ke jama' dapat melalui 6 cara perubahan, yaitu sebagai berikut :

- berubah syakal ( harkatnya ) 
- berubah jiyadah ( di tambah )
- berubah naqos ( di kurangi )
- berubah syakal serta ziyadah ( harkat dan di tambahi )
- berubah syakal serta naqos ( harkat dan di kurangi )
- berubah syakal serta ziyadah serta naqos ( harkat, di tambahi, dan di kurangi )  

Dan dari 6 cara tersebut berikut contoh contohnya : 
- Berubah syakal seperti pada kata asadun ( singa ) di jama' taksirkan menjadi usudun ( banyak singa )
pada kata asadun yaitu bentuk mufrodnya harkat pada hamzah dan sin di fathahkan, sementara ketika di jama'kan harkatnya menjadi di rofa'kan.
- Berubah ziyadah seperti pada kata sinwun di jama'kan menjadi sinwanun, pada kata tersebut ketika mufrod hanya terdapat tiga huruf yaitu sho, nun, dan wawu, namun ketika di jama'kan di tambah dua huruf yaitu alif dan nun di akhirnya
- Berubah naqos seperti pada kata tuhmatun, di jama'kan menjadi tukhomun, pada kata tuhmatun di sana bentuk mufrod yang memiliki 5 huruf yaitu ta, kho, mim, dan ta marbuthoh. lalu ketika di jama'kan di kurangi hurufnya satu yaitu ta marbuthoh yang di buang menjadi kata tukhomun
- Berubah syakal serta ziyadah seperti pada kata rojulun (satu lelaki) di jama'kan menjadi rijalun (para lelaki), maka pada kata rojulun ketika mufrod hanya terdapat huruf ro yang di harkati dengan fathah lalu jim yang di harkati dengan harkat dhomah, dan lam yang di harkati dengan harkat dhomah, dan pada saat di jama'kan di sana ro nya di harkati dengan kasroh jim nya di harkati dengan fathah, dan di tambah haraf alif dan lam tetap dhomah. 
- Berubah syakal serta naqos seperti pada kata 
- Berubah syakal serta ziyadah, serta naqos seperti pada kata ghulamun ( pembantu ) di jama'kan menjadi ghilmanun ( para pembantu ) pada kata gulamun di sana yaitu bentuk mufrod yang tersusun dari dari haraf ghin yang di harkati dhomah, lam alif yang di harkati fathah, dan mimi yang di dhomahkan, dan ketika di jama'kan, menjadi ghilmanun, yaitu tersusun dari haraf ghin yang di harkati kasroh, lam yang sukun dan alifnya di buang, lalu mim yang di harkati fathah, dan di tambah alif setelah mim, juga di tambah nun yang di dhomahkan di akhirnya.

3. Jama' Muannats Salim

    Kalimat jama muannats salim yaitu mempunyai pengertian ma jumia' bi alifin wa ta in mazidataeni yang artinya kalimat isim yang di jama'kan dengan cara di tambahi dengan alif dan ta yang keduanya merupakan haraf penambah, seperti pada contoh ja at muslimatun, ( telah datang para wanita muslimah ), dan pada kata muslimatun itu adalah kalimat yang menunjukan pada jama' atau banyak, yang mana pada asalnya ketika mufrod yaitu muslimatun, di jama'kan menjadi muslimaatun, dengan alif dan ta di akhirnya. dan pada kata muslimaatun itu di harkati dengan dhomah dzohiroh di akhirnya sebagai ciri dari i'rob rofa'nya, sedangkan yang memerintah rofa' pada lafadz muslimatun adalah lafadz jaat selaku kalimat fii' madhi. 

4. Fiil mudhori  

    Kalimat fii'l mudhori ini yaitu yang memiliki ta'rif ma dalla a'la hadatsin yahtamilu al halla wal istiqbal yang artinya kalimat yang menunjukan pada pekerjaan yang meligkupi waktu sekarang dan waktu akan, dan fii'l mudhori yang di beri ciri i'rob rofa'nya dengan dhomah ini yaitu fi i'l mudhori yang belum bertemu dengan alif dzomir tasniyyah, wawu dzomir jama' dan iya dzomir muannatsah mukhotobah, nun dzomir jama' niswah, dan nun tauqid tsakilah, atau khofifah. dan contohnya seperti pada kata yansuru, ( akan menolong ), pada kata yanshuru itu dirinya tengah di i'robi dengan i'rob rofa' sedangkan yang memerintah rofa' terhadap lafadz yanshuru adalah tajarrud ( tidak adanya amil nawasib dan amil jawazim ), dan dhomah sebagai ciri rofa' dari lafadz yansuru itu.


Sebelumnya - Lanjut ke Halaman 16

Posting Komentar

0 Komentar
Posting Komentar (0)