PARA PENUNTUT ILMU DI PONDOK PESANTREN NURUL HUDA

Nurul Huda Media
0


    Pesantren Nurul Huda pada dasarnya merupakan pondok pesantren yang sulit di akses atau tidak terlalu banyak di kenal oleh kalangan masyarakat umum, di karenakan posisinya yang jauh dari pandangan umum, karena letaknya yang terlingkup oleh perumahan-perumahan lingkungan sekitar, meski begitu para santri yang menuntut ilmu sudah cukup banyak, dan menjalani aktifitas mengaji dalam kurun waktu yang cukup lama pula, ada yang sudah lima tahun mondok, atau dari sejak berdirinya pondok ini hingga sekarang menginjak 5 tahun, usia pondok pesantren yang masih muda juga menjadi paktor utama dalam keterkenalan pondok ini, tidak sama dengan pondok lain yang telah mencetak para alumni, pondok ini masih berada dalam pase perintisan, dan belum bisa di katakan pondok yang telah mencetak generasi ulama, 

    Dan untuk mengetahui jumlah para penuntut ilmu di pondok ini, sekarang ini kurang lebih berjumlah 49 orang, 49 orang santri ini adalah para penuntut ilmu laki-laki dan perempuan, adapun asal atau tempat tinggal para santriyawan dan santriwati ini dari bermacam-macam daerah, dan mayoritas para santri berasal dari daerah bandung, hal ini di sebabkan sang pendiri pondok pesantren merupakan sosok ustadz asal kelahiran Bandung tepatnya yang di lahirkan di sebuah kampung bernama ci badak kecamatan cililin bandung barat, dan para santri yang menuntut ilmu mengenal keberadaan pondok ini melalui lisan kelisan para kerabat beliau, selain daripada mereka yang berasal dari kota bandung, adapula para santri yang berasal dari daerah cianjur seperti takokak, ci jurang, cianjur kota dsb.

    Untuk mengetahui tentang bagaimana struktur kepengurusan pondok dan santri di pondok ini, seputar administrasi, pembayaran bulanan, dan lain sebagainya, ada sebuah kelebihan yang akan memudahkan bagi seluruh penuntut ilmu di pondok ini, bahwa pondok pesantren ini tidak mengharuskan para santri untuk mengeluarkan banyak biaya, sebab pendiri pondok pesantren ini telah menggratiskan seluruh pembayaran termasuk uang konsumsi dan makan sehari-hari para santrinya, dalam kata lain, para santri bisa makan secara gratis, di dorong oleh kedermawanan sosok pengurus pondok, dan tekad dalam memperjuangkan agama, agar pondok pesantren ini dalam kehadirannya dapat mempermudah para calon-calon penerus dakwah islam dalam menimba ilmu, dan mempersiapkan diri dalam penyebaran agama islam yang mulia ini, mengingat pula di zaman modern ini semakin kesini, sudah banyak generasi muda yang di butakan oleh kemajuan zaman yang berakibat buruk bagi rohani mereka yang tidak mengenal sama sekali tentang apa yang di namakan islam yang sempurna, dan semakin kurangnya minat para kaum muda dalam menuntut ilmu agama, seolah mereka tidak akan mendapat konsekuensi atas pandangan mereka yang menganggap sepele masalah yang bersangkut paut dengan keagamaan, juga kurangnya pula kesadaran para orang tua yang tidak memahami bahwa anaknya merupakan aset penting yang akan menentukan keadaan akheratnya kelak, para orang tua di zaman modern ini hanya menekankan bagaimana anaknya agar mampu menghadapi masa depan nya sebagai para pencari pundi-pundi rupiah yang dapat menunjang kebutuhan hidupnya sendiri dan orang-orang yang mereka sayangi, tanpa berpikir tentang pembekalan rohani dan pembekalannya kelak ketika sudah mati

    Maka bagi para orang tua yang menghadapi sebuah kebingungan perihal biaya pendidikan anaknya, pondok pesantren ini menjadi sebuah reperensi utama, agar kendala biaya tidak lagi menjadi faktor dalam ketertinggalan anak-anaknya dalam segi pendidikan, khusunya dalam bidang keagamaan, dan bagi kaum orang tua yang takut atau berkeinginan lebih untuk menjadikan anaknya mempunyai gelar tinggi, di pondok pesantren ini pun telah menghadirkan sebuah pendidikan tambahan seputar pendidikan yang akan menentukan gelar seseorang, seperti halnya pendidikan formal, sekelas SD, SMP, SMA, dan UNIVERSITAS, karena di sini telah hadir pendidikan kesetaraan paket A,B,C, dan Universitas, yang mana pada pelaksanaannya, kesetaraan  ini tidak lantas  menggangu aktifitas lainnya, khususnya kegiatan mengaji, karena jadwal pendidikan di pondok pesantren ini di laksanakan 2 hari selama satu minggu, yaitu pada hari sabtu, dan minggu. dan untuk waktu pelaksaannyapun tidak terlalu memberatkan bagi para murid-muridnya, sebab hanya berdurasi satu atau dua jam saja perhari, juga hampir sama dengan pendidikan pokok yaitu mengaji, pada prosesnya para santri yang mengikuti paket ini,  tidak di kenai biaya dalam pelaksanaannya, hanya saja ketika nanti dirinya telah menginjak waktu kelulusan di haruskan untuk menebus ijazah dengan tarif yang berpareatif di sesuaikan dengan tingkat kesetaraan pendidikannya.   

    Tidak hanya mengadakan atau menyediakan pelayanan ijazah bagi para santrinya, piihak pengurus pondok pun menerima pengajuan pembuatan ijazah bagi mereka kaum-kaum yang sudah putus dalam masalah pendidikan, atau yang sudah berkeluarga, dan tidak sempat untuk menghadiri proses belajar dan mengajar, alias dalam kegiatan menghadiri proses belajar dan mengajar dapat di wakilkan oleh pihak-pihak tertentu yang hadir di tempat, dan suatu saat pun ketika proses ujian kelulusan  dapat di wakilkan oleh pihak terkait, dan kelak pihak yang di wakili, hanya tinggal menyediakan biaya penebusan ijazah saja, 

    Dalam keberlangsungannya pihak pesantren telah sanggup menyediakan kertas ijazah yang berlisensi dan legal, bagi setiap kalangan, sehingga mampu membantu mereka yang mengalami ketertinggalan dalam segi gelar, yang pada kenyataannya hal tersebut sangat berpengaruh bagi keberlangsungan hidup dalam segi pekerjaan, dan status sosial.

    Mungkin itulah seputar gambaran tentang kondisi para santri dan struktur yang terdapat dalam berdirinya lembaga pesantren ini, semoga artikel ini dapat menjadi solusi dan pengalaman baru bagi para pembaca yang budiman  

Posting Komentar

0 Komentar
Posting Komentar (0)