1. Pembulian dari teman
Dari sekian banyak pondok yang tersebar di manapun itu berada, tidak menutup kemungkinan bahwa di tempat yang di pandang sakral ini karena berbau religi, tidak berarti melepas keberadaannya dengan suatu tindakan yang negatif, dan salah satunya adalah bentuk pembulian, mengapa hal tersebut terjadi di lingkungan pesantren, pertanyaan semacam itu bisa di jawab dengan jawaban yang simple, yaitu bentuk test kesanggupan diri seorang santri apakah dirinya kuat atau tidak untuk berjuang di jalan Allah, mengapa demikian, hal tersebut di lihat dari sebuah pengalaman para nabi dan rosul yang ketika beliau semua tengah menyebarkan sebuah ajaran islam, di antara kaumnya seperti Rasulullah muhammad Saw, beliau di uji dengan sosok kaum kafir quraisy yang terus memfitnah, mencaci, dan mengadu domba, sehingga menghambat perjalanan dakwah beliau, maka sudah pasti perlakuan buruk tersebut akan menggoyahkan keteguhan dan mental para nabi dan rasul, ketika di tuntut untuk terus mendakwahi umatnya, pada saat itulah kita mampu mengambil suatu pelajaran bahwa setiap perjuangan dalam menegakan sebuah kebenaran akan senantiasa mendapatkan sebuah permusushan dan perlawanan dari pihak lain yang tidak sepemikiran dan sekeyakinan, dan sebuah tugas dalam menegakan kebenaran itu tiada lain akan di wariskan dan di teruskan oleh seluruh sosok santri yang sejak dini telah di tungtut untuk memepersiapkan segala apapun yang di butuhkan dalam mengemban amanah tersebut, yaitu meneruskan dakwah islam, termasuk adalah mempersiapkan mentalnya, dan dengan apakah cara dalam menyiapkan mental agar menjadi pribadi yang kuat, dan salah satunya adalah terjadinya sebuah pembulian saat tengah belajar di pondok, maka dengan adanya seorang santri telah terbiasa di buli oleh orang-orang di sekitarnya, maka sudah pasti ketika kelak dirinya terjun di masyarakat untuk menyebarkan ajaran islam, dan menjalankan dakwah islam, ia akan senantiasa tegak dan teguh pendirian tidak akan sanggup untuk di goyahkan oleh godaan-godaan yang terjadi dari lingkungan sekitarnya
Dari sekian banyak pondok yang tersebar di manapun itu berada, tidak menutup kemungkinan bahwa di tempat yang di pandang sakral ini karena berbau religi, tidak berarti melepas keberadaannya dengan suatu tindakan yang negatif, dan salah satunya adalah bentuk pembulian, mengapa hal tersebut terjadi di lingkungan pesantren, pertanyaan semacam itu bisa di jawab dengan jawaban yang simple, yaitu bentuk test kesanggupan diri seorang santri apakah dirinya kuat atau tidak untuk berjuang di jalan Allah, mengapa demikian, hal tersebut di lihat dari sebuah pengalaman para nabi dan rosul yang ketika beliau semua tengah menyebarkan sebuah ajaran islam, di antara kaumnya seperti Rasulullah muhammad Saw, beliau di uji dengan sosok kaum kafir quraisy yang terus memfitnah, mencaci, dan mengadu domba, sehingga menghambat perjalanan dakwah beliau, maka sudah pasti perlakuan buruk tersebut akan menggoyahkan keteguhan dan mental para nabi dan rasul, ketika di tuntut untuk terus mendakwahi umatnya, pada saat itulah kita mampu mengambil suatu pelajaran bahwa setiap perjuangan dalam menegakan sebuah kebenaran akan senantiasa mendapatkan sebuah permusushan dan perlawanan dari pihak lain yang tidak sepemikiran dan sekeyakinan, dan sebuah tugas dalam menegakan kebenaran itu tiada lain akan di wariskan dan di teruskan oleh seluruh sosok santri yang sejak dini telah di tungtut untuk memepersiapkan segala apapun yang di butuhkan dalam mengemban amanah tersebut, yaitu meneruskan dakwah islam, termasuk adalah mempersiapkan mentalnya, dan dengan apakah cara dalam menyiapkan mental agar menjadi pribadi yang kuat, dan salah satunya adalah terjadinya sebuah pembulian saat tengah belajar di pondok, maka dengan adanya seorang santri telah terbiasa di buli oleh orang-orang di sekitarnya, maka sudah pasti ketika kelak dirinya terjun di masyarakat untuk menyebarkan ajaran islam, dan menjalankan dakwah islam, ia akan senantiasa tegak dan teguh pendirian tidak akan sanggup untuk di goyahkan oleh godaan-godaan yang terjadi dari lingkungan sekitarnya
2. adanya gangguan dengan hadirnya sebuah penyakit
Semua manusia pasti akan mengalami sakit, tidak ada satupun orang di dunia ini yang tidak pernah mengalami rasa sakit, entah rasa sakit akibat virus, kuman ataupun benturan fisik, dan penyebab-penyebab lainnya, begitupun dengan seorang santri, ketika berada di pondok pasti merekapun akan sama mengalami hal yang sama , dan terkadang penyakit yang di derita olehnya bersifat menahun, atau berlangsung lama, meskipun penyakit yang di derita hanya sekedar penyakit gatal dan penyakit yang di nilai ringan, dan untuk mengobati penyakit yang di deritapun ternyata bukan dengan sebuah obat yang di berikan oleh dokter tetapi oleh kepulangannya dari pondok ke rumah atau kampung halamannya, memang sedikit lucu, karena seakan-akan penyakit yang mereka derita adalah penyakit yang di buat-buat atau hanya sekedar mengada-ngada, penyakit yang di jadikan alasan agar dirinya bisa pulang ke kampung halamananya, tetapi itu memang sering kali terjadi dalam kehidupan kaum santri, terkadang penyakit yang ia alami adalah penyebab dari dirinya untuk berhenti tinggal di pesantren, atau memutuskan kegiatannya dalam menuntut ilmu agama, dan sebagian santri yang di irodah oleh Allah untuk menjadi sosok berpengaruh di masa depannya pasti dirinya akan menjadi sosok yang tahan banting ketika menjalani aktivitasnya di pondok pesantren, dalam arti dirinya akan terus tangguh dan menyelesaikan setiap ujian yang di terima di pondok.
3. kurangnya perbekalan untuk tinggal di pondok
Manusia adalah makhluk yang membutuhkan sebuah sumber energi dalam kehidupannya yang mampu menopang tubuhnya agar senantiasa hidup dan berenergi, untuk mampu menjalani aktivitas sehari-hari dengan lancar, maka dari itu ia perlu memiliki sumber penghasilan dalam memenuhi kebutuhannya tersebut, dan bagi sosok santri yang tinggal di pondok dan menghabiskan kesehariannya dengan mengaji, beribadah dan semacamnya, sudah pasti aktivitas tersebut akan menghabiskan waktu dan tenaganya bukan untuk mencari uang atau rupiah, yang dapat di jadikan untuk membeli setiap keperluannya sehari-hari, maka dari itu tugas dalam memenuhi kebutuhan tersebut di bebankan kepada orang tua atau sanak saudara yang bertanggung jawab dalam menanggung kebutuhan hidupnya, namun pada kenyataannya selalu ada saja di saksikan sosok santri yang serba kekurangan, karena terlahir dari keluarga yang kurang lengkap atau keluarga yang dalam segi ekonominya terbilang dari kalangan menegah kebawah, maka hal tersebut banyak yang berpengaruh atas kondisi seorang santri saat tengah menuntut ilmu, tidak sedikit dari mereka yang memutuskan untuk keluar dari pesantren.
Dan itulah sebagian kendala yang terjadi di lingkungan pondok yang mengakibatkan banyak santri yang tidak sanggup untuk bertahan di pondok peasantren dalam waktu lama, karena memang hanya orang-orang terpilih yang mampu menuntaskan setiap cobaan seperti di atas, semangat terus bagi para santri yang masih betah tinggal di pondok, jangan sampai kalian tumbang di tengah jalan

