Kitab Asmawi pembahasan haraf jar za idah & lafad rohman dan rohim

    Setelah kita membahas tentang haraf jar asliyyah, disini juga akan di bahas tentang haraf jar za idah, yang mana pada lafadz Bismi ini, ketika Ba tersebut di jadikan haraf jar za idah, dirinya tidak membutuhkan akan muta a'llaq, (kata yang di kaitkan), dan juga tidak akan mendatangkan ma'na yang di maksudkan, jika di bahasakan, istilahnya Ba di sini sebagai haraf jar penambah, yang kehadirannya di anggap tidak ada, maka pada penyebutan ismi di sini, ketika dirinya di baca kasroh, kedudukannya bukanlah sebagai majrur, atau yang di perintah kasroh oleh haraf jar Ba, melainkan lafadz ismi di sini sebagai Mubtada, dan dirinya di baca kasroh dengan alasan menjaga tempat, atau itighol lil mahal, menjaga tempat karena ada haraf ba sebelumnya, sedangkan ketika ismi kedudukannya sebagai Mubtada, maka dirinya memerlukan bentuk Khobar, adapun khobar dalam lafadz ismi ini posisinya di mukoddar atau di perkirakan kehadirannya, jadi dapat di hasilkan khobarnya ini  sebagai berikut : " ismillahi "mabdu un bihi, bada atan qowiyyatan bi husni niyyatin waikhlaasin, yang artinya Nama allah adalah di jadikan sebagai permulaan yang kuat, di iringi oleh bagusnya niat, dan keikhlasan hati.

   Dan pada pembahasan haraf jar asliyyah sebelumnya, lafadz ismi berada dalam kedudukan sebagai majrur alias yang di jeerkan oleh ba haraf jar Asliyyah sebelumnya, dan lafadz Allah di sini berkedudukan sebagai mudhof ilaih, yang mana dirinya di kasrohkan oleh mudhof yaitu lafadz ismi, dan untuk lafadz rohman dan rohim di sini, keduanya berkedudukan sebagai sifat atau na'at dari lafadz Allah, rohmani sebagai sifat pertama dari lafadz Allah, dan rohimi sebagai sifat kedua dari lafadz Allah, dan yang di katakan sebagai naat ini atau sifat ini, merupakan bentuk isim yang manut atau menurut pada segi harkat sebagaimana harkat mausufnya alias yang di sifatinya, jika mausufnya di rofa'kan maka sifatnya pun harus di baca rofa, dan ketika mausufnya di kasrohkan, maka sifatnya pun harus di baca kasroh, dan karena lafadz Allah sebagai mausufnya di sini di kasrohkan, maka lafadz rohman dan rohim pun harus di kasrohkan, 

    Dan untuk pembahasan lanjut seputar lafadz Rohman dan Rohim, pada pembahasannya lafadz rohman dan rohim ini dalam bentuk pembacaan dan pengharkatannya, terbagi kedalam 2 cara, bisa di itba'kan atau di anutkan terhadap mausufnya, dan juga bisa di khoto kan atau di putuskan dari mausufnya, ketika rohman' dan rohim di koto dan di itbakan, maka perincian pembahasannya menjadi terurai kedalam 9 cara pembacaan, yaitu sebagai berikut : 

lafadz rohman rohim saat di itba'(di turutkan) dan di koto'(di putuskan) terhadap mausufnya

  1.  Ketika di itba'kan keduanya alhasil dibaca Bismillahirrohmanirrohim (di kasrohkan keduanya)
  2. Ketika di kotokan seluruhnya dan di baca rofa' alhasil di baca Bismillahirrahmanurrohimu (di rofa'kan keduanya)
  3. Ketika di kotokan seluruhnya dan di baca nasab' alhasil di baca Bismillahirrohmanarrohima (di nasabkan keduanya)
  4. Ketika di kotokan seluruhnya dan di baca nasab' pertama, dan rofa' yang kedua, alhasil di baca Bismillahirrohmanarrohimu
  5. Ketika di kotokan seluruhnya dan di baca rofa' yang pertama, dan nasab yang kedua alhasil di baca Bismillahirrahmanurrohima
  6. Ketika di itba'kan yang pertama dan di khoto yang kedua dan di baca nasab al hasil di baca Bismillahirrahmanirrohima
  7. Ketika di itba'kan yang pertama dan di khoto yang kedua dan di baca rofa' al hasil di baca Bismillahirrahmanirrohimu
  8. Ketika di koto'kan yang pertama lalu di baca nasab, dan di itba'kan yang kedua al hasil di baca Bismillahirrahmanarrohimi
  9. Ketika di koto'kan yang pertama, dan di itba'kan yang kedua, dan di baca rofa' al hasil di baca Bismillahirrahmanurrohimi

Posting Komentar

0 Komentar
Posting Komentar (0)