Dalam pembahasan Bismillah di atas, sudah kita ketahui bahwa dalam membaca lafadz arrahmani dan arrohimi bisa di baca 9 cara, tetapi dari kesembilan cara tersebut terbagi kedalam 3 bagian,
- yang boleh di baca dan boleh di i'robi
- tidak boleh di baca dan boleh di i'robi
- di ikhtilafkan (di perselisihkan) ada yang menyebutkan boleh di baca dan di i'robi, dan ada yang mengatakan tidak boleh di baca dan tidak boleh di i'robi
Adapun bagian yang pertama adalah yang boleh di baca dan boleh di i'robi, yaitu ada satu, ketika di baca kasroh keduanya, atau di itba'kan : Bismillahirrahmanirrahimi
Bagian kedua yaitu yang tidak boleh di baca, tapi boleh di i'robi, yaitu ketika di khoto seluruhnya, alhasil berjumlah 6 pembacaan :
- Bismillahirrahmanurrohimu (di baca rofa' keduanya )
- Bismillahirrahmanarrohima (di baca nasab keduanya )
- Bismillahirrahmanurrahima (di baca rofa' yang pertama di baca nasab yang kedua )
- Bismillahirrahmanarrohimu (di baca nasab yang pertama dan di baca rofa' yang kedua )
- Bismillahirrahmanirrohimu (di baca kasroh yang pertama dan di baca rofa' yang kedua )
- Bismillahirrahmanirrohima (di baca kasroh yang pertama, dan di baca rofa' yang kedua )
Bagian yang ketiga adalah di ikhtilafkan ( di perebutkan ) yaitu ada dua pembacaan :
- Bismillahirrahmanurrohimi ( di baca rofa' yang pertama, dan di kasrohkan yang kedua )
- Bismillahirrahmanarrohimi ( di baca nasab yang prtama, dan di kasrohkan yang kedua )
Dan adapun alasan dari para ulama menyebutkan bahwa kedua bentuk tersebut di larang adalah berdasarkan pada sebuah ko idah yang mengatakan " kembali setelah di putuskan adalah di larang " seperti di ibaratkan ketika seseorang merujuk seorang istri yang sudah di tolak tiga, maka tidak di perbolehkan,
Dari rincian di atas, akan timbul sebuah pertanyaan, mengapa lafadz Bismillah ini menjadi 9 jalan pembacaan, apa yang menjadikan lafadz rahman dan rahim bisa di rofa' kan dan di nasabkan?
Jawaban dari pertanyaan tersebut adalah, jika lafadz rahman dan rohim di rofa'kan maka di sana terdapat a'mil yang memerintah rofa kepada keduanya yang di mukoddar (di perkirakan), yang berupa kalimah isim dhomir yaitu lafadz hua, jika di tulis maka penyebutannya sebagai berikut : "Bismillahihuarrahmanuhuarrohimu" alias kedua lafadz rohman dan rohim berkedudukan sebagai khobar dari hua, yang menjadi mubtada isim dzomir, dan ketika lafad rohman dan rohim di nasabkan di sana terdapat sebuah a'mil yang memerintahkan nasab berupa kalimah fii'l, yang di mukoddar, dan jika di tulis sebagai berikut : "Bismillahia'nirrahmanaa'nirrohima"
Alhasil ketika di rofa'kan keduanya tengah berada dalam posisi sebagai khobar dari mubtada yang di mukoddar ( hua ), dan ketika di nasabkan keduanya tengah menjadi mafu'l dari fiil fa i'l ( a'ni ) yang di mukoddar.
