Dari pembagian i'rob ke empat tadi, para ulama membagi ke empat i'rob itu kedalam 2 bagian sebagaimana yang di jelaskan dalam matan kitab sebagai berikut :
Matan kitab :
Falil asma i min dzalika rof'un wanashbun wa khofdun wala khofdo fiha, walil af'ali min dzalika rof'un wanashbun wajazmun wala khofdo fiha
Arti Matan :
maka yaitu bagi seluruh kalimah isim dari i'rob yang empat tadi, rofa, nashob, khofad, dan tidak menerima jazem dalam kalimah isim, yaitu bagi seluruh kalimat fi'il, rofa, nashob, khofad dan tidak menerima khofad dalam kalimah fi'il.
penjelasan Matan :
Dalam pembagian i'rob yang empat tadi mushonif (pengarang) mengatakan bahwa i'rob yang empat itu ada yang bisa masuk kedalam kalimat isim dan juga fi'il, dan ada yang hanya masuk kedalam salah satu kalimah fi i'l atau fi i'l saja, alhasil terbagi menjadi 2 bagian yaitu i'rob yang takhsis (khusus) dan i'rob yang musytarok (bisa masuk kesana-kemari), maka dari pembagian tersebut di ketahui bahwa yang termasuk kedalam bagian yang takhsis adalah berjumlah 2 yaitu i'rob khofad dan i'rob jazem, khofad di khhususkan untuk kalimat isim seperti pada contoh marortu bi zaidin, dan jazem di khususkan untuk kalimat fi'il, seperti pada contoh lam yansur, sedangkan yang termasuk pada bagian musytarok yaitu i'rob rofa' dan i'rob nashob, sebab keduanya masuk pada kalimat isim dan fi'il, seperti pada contoh kalimat isim yang tengah rofa' dan nashob seperti pada ucapan zaidun qoimun dan roaitu zaidan, dan untuk contoh kalimat fi i'l seperti pada ucapan yansuru dan an yansura.
Dan dari pembagian i'rob tersebut telah di ketahui bahwa isim menerima tiga i'rob dan fi i'l pun menerima tiga i'rob. lalu timbul sebuah pertanyaan mengapa i'rob khofad di khususkan untuk kalimat isim, dan jazem di khususkan untuk kalimat fi i'l?
Dan jawabannya adalah khofad di berikan kepada kalimat isim sebab khofad merupakan perkara yang berat dalam pengucapannya, dan isim merupakan perkara yang enteng, maka yang berat di berikan kepada yang enteng agar tercipta keadilan, sedangkan jazem itu enteng dalam pengucapannya dan fi i'l itu berat, maka di berikan yang enteng kepada yang berat, agar tercipta keadilan, mengapa isim di katakan enteng ? sebab isim hanya menyimpan satu ma'na yaitu dzat, mengapa fi i'l di katakan berat? sebab dirinya menyimpan 2 ma'na, yaitu ma'na hadats (pekerjaan) dan ma'na zaman (waktu). maka ada sebuah koidah menyebutkan "fa u'tiya tsaqila lil khofifi wal khofifa li tsaqili liyahshula atta a'ddula" yang artinya "maka di berikan yang berat kepada yang enteng dan yang enteng kepada yang berat supaya saling mengadili".
