Kitab Jurumiyyah ( Lafadz Bismillah )

lafadz Bismillahirrahmanirrahim

    Setelah di bahas seputar mabadi ilmu nahwu, pembahasan akan di lanjutkan oleh pembahasan tentang lafadz bismillahirrohmanirrohim, karena pada sebuah keterangan menyebutkan "yambagi likulli syari i'n fi fannin minal fununi ayyatakallama a'lalbasmalati bi torfin mimma yunasibuha" yang artinya sangat penting bagi seseorang yang akan mengkaji sebuah pan ilmu, dirinya harus membicarakan lafadz bismillah dengan sebuah pembahasan yang ada sangkut pautnya dengan fan ilmu yang akan di kaji.
    
     Dalam ilmu Nahwu, pembahasan Bismillah ini mencakup pada ba dalam lafadz bismi, lafadz Allah, lafadz Rohman, dan lafadz Rohim. maka dalam membahas ke empat poin tersebut akan di awali dengan pembahasan ba, 

1. Ba pada lafadz Bismi ini bisa di namakan dengan Ba haraf jar asliyyah, dan Ba haraf jar zaidah, dan yang di maksud dengan ba haraf jar asliyyah ini adalah Haraf jar yang membutuhkan taa'luq { lafad yang di kaitkan } dan memberikan ma'na yang di maksud. sedangkan dalam menyebutkan taa'luk ba ini ia bisa di buat dari kalimat isim dan kalimat fii'l, dan bisa khos (khusus) dan a'm (umum), juga bisa di mukoddam ( di awalkan ) dan di muakhor ( di akhirkan ). dan di bawah ini adalah percontohan membuat mutaa'laq Bismillah sebagai mana di sebutkan di bawah ini :

- Uallifu Bismillahirrahmanirrahim ( fii'l-khos-mukoddam )
- Ta'lifi Bismillahirrahmanirrahim ( isim-khos-mukoddam )
- abtadi u Bismillahirrahmanirrahim ( fii'l-a'm-mukoddam )
- ibtida i Bismillahirrahmanirrahim ( isim-a'm-mukoddam )
- Bismillahirrahmanirrahim Uallifu ( fii'l-khos-muakhor )
- Bismillahirrahmanirrahim Ta lifi ( isim-khos-muakhor )
- Bismillahirrahmanirrahim abtadi u ( fii'l-a'm-muakhor )
- Bismillahirrahmanirrahim ibtida i ( isim-a'm-muakhor )

    Ketika Muta'allaq Bismillah dengan kata U allifu ( aku mengarang ) yang di sebut kalimat fii'l khos, karena sebuah kalimat pekerjaan yang khusus, karena karangan hanya khusus pada sebuah kitab atau buku, dan kata ta lifi ( karanganku ) di katakan kalimat isim yang khos, karena merupakan kalimat isim masdar yang khusus karena kata karangan hanya di khususkan untuk sebuah catatan atau buku, dan pada kata abtadi u ( aku mengawali ), yang di sebut kalimat fi i'l yang a'm atau umum, sebab kata mengawali ini bisa di pakai pada suatu apapun itu, dan pada kata ibtida i ( awalanku ), di katakan kalimat isim, sebab merupakan bentuk isim masdar, 

    Untuk haraf jar zaidah yaitu yang memiliki sebuah pengertian "ma la yata'allaqu bihi wala yufidu ma'nan" dapat di artikan sebagai haraf jar yang tidak membutuhkan mutaa'llaq dan tidak mendatangkan ma'na yang di maksud. jika di katakan secara sederhana, haraf jar ini hanya sebatas hiasan semata, dan tidak berpengaruh atas kalimat yang lainnya. untuk bembahasan lebih lanjut di sini pengarang kitab akan menyinggung seputar lafadz ismi atau yang datang setelah ba haraf jar, dan untuk lafadz ismi di sini, dirinya berada dalam posisi sebagai majrur atau yang di jeerkan oleh haraf jar, maka dirinya harus di jeerkan dalam pembacaannya, sedangkan pada lafadz Allah dirinya merupakan lafadz yang berkedudukan sebagai mudhof ilaih, yang di maksud mudhof ilaih yaitu kalimat yang di sandingkan pada mudhof, yang mana yang menjadi mudhof ( yang di sandingi ) adalah lafadz ismi. 
    Sedangkan pada lafadz arrahmani dan arrohimi, di sini berkedudukan sebagai sifat atau naat dari lafadz Allah, dan sebuah naat atau sifat itu merupakan bentuk isim yang mengikuti man u'tnya atau yang di sifati, maka ketika lafadz Allah di harkati dengan harkat kasroh, maka lafadz rohman dan rohim pun harus di kasrohkan, dan pada pembahasan lebih lanjut dalam pembacaan dua lafadz ini bisa di baca dengan di itba'kan juga bisa di baca dengan di koto'kan, ketika di itba'kan maka keduanya menjadi naa't bagi lafadz Allah, sedangkan ketika di koto'kan, baik salah satu ataupun keduanya, jika di rofa'kan maka menjadi khobar, dan ketika di nashobkan menjadi mafu'l bih, adapun perinciannya sebagai berikut :

1. ketika di itba'kan keduanya di baca : Bismillahirrohmanirrohim
2. ketika di koto'kan seluruhnya di baca : 
- Bismillahirrohmanarrohima
- Bismillahirrohmanurrohimu
- Bismillahirrohmanarrohimu
- Bismillahirrohmanurrohima
3. ketika di koto sebagian :
- Bismillahirrohmanirrohimu
- Bismillahirrohmanirrohima
- Bismillahirrohmanarrohimi
- Bismillahirrohmanurrohimi
  
   Dan dalam mengetahui alasan mengapa dua lafadz tersebut dapat di baca sedemikian, karena di sana terdapat sebuah lafadz yang di mukoddar, atau yang di sembunyikan / di perkirakan, ketika di baca rofa' maka sebelumnya terdapat lafadz mubtada yaitu lafadz huwa, dan ketika di baca nasab di sana terdapat lafadz a'ni sebelumnya, yaitu bentuk kalimat fi i'l dan fa i'l, maka jika di nasobkan dirinya menjadi sebuah mafu'l bih.

Posting Komentar

0 Komentar
Posting Komentar (0)