Dan di lanjutkan ketika menginjak usia sebelas tahun dirinya akan menginjakan kaki di kelas 1 SMP, dan di usia 16 dirinya melanjutkan pendidikan ke sebuah bangku SMA, kemudian di lanjutkan ke kelas kuliahan, sampai pada akhirnya dirinya dapat menempuh kehidupan dengan berbagai kesibukannya masing-masing, entah dengan mencari pekerjaan, mencari nafkah untuk pribadi ataupun untuk keluarga, dan menikah dan berkeluarga, setelah semuanya berjalan secara naluriahnya, manusia akan terus seperti itu dari zaman ke zaman, karena telah sesuai dengan norma dan aturan yang di wariskan dari waktu kewaktu dari masa ke masa, dari generasi ke generasi, dan begitupun sama dengan kita yang tengah menjalani sebuah pendidikan di sebuah pondok pesantren, akan di ukur dengan adanya tingkatan usia seorang anak,
Dan di dalam pondok ini juga sama, sebuah pelajaran yang di berikan oleh seluruh pengajar akan mencoba untuk menyesuaikan segi kemampuan setiap individu, individu manusia itu akan sangat berbeda dari satu orang ke orang yang lainnya, harus dapat kita kenali seluruhnya apabila kita menjadi seorang pengajar, sebab tidak akan ada habisnya kita bertemu dengan berbagai karakter dan kapasitas manusia yang berbeda, agar kita senantiasa bisa lebih dekat dengan keberhasilan dalam menciptakan pemahaman, pada diri setiap orang,
Untuk menyadari hal ini, seorang santri pada umumnya yang masih berusia muda, dan belum menginjak usia 20, akan di beri sebuah materi hapalan, sebab di usia ini seorang anak masih mempunyai daya ingat yang kuat, dan pikiranya belum terganggu dengan berbagai macam ingatan yang akan mengganggu konsentrasi dan fokusnya, meski di usia ini pun masih berpotensi dirinya mendapat sebuah hambatan, yang dapat mengganggu kinerja otaknya, sehingga lebih lambat dalam mengingat hapalan, apalagi di usia dimana ia telah menginjak usia baligh, maka dirinya sudah pasti akan mengenal dengan perbuatan yang menimbulkan dosa, dan dosa inilah yang akan mengotori otak dan pikirannya,
Dan di usia ini pula harus di berikan pemahaman agar mereka mengenali mana perbuatan yang buruk dan mana perbuatan yang baik, agar kelak mereka mampu menghindar dari perbuatan yang menimbulkan dosa, setelah setiap pengarahan dan pemahaman terus di berikan secara terus menerus dan berhasil untuk di praktekan dalam kehidupannya sehari-hari, maka akan lebih menjaga dirinya dari sebuah hambatan yang berpengaruh buruk dalam keberlangsungannya dalam menuntut ilmu, dan pada usia 20 ke atas seorang santri akan lebih baik dalam memahami sebuah penjelasan, sebab telah terjadinya kematangan, dan kedewasaan yang mulai bertumbuh, maka di usia ini dia sudah siap untuk menerima sebuah materi yang di pokuskan untuk melakukan aktivitas otak untuk memahami, apapun m ateri, yang di sampaikan,
Tetapi hal tersebut tidak bisa di jadikan sebagai patokan, karena terkadang usia tidak bisa di jadikan landasan bagi kemampuan psikis seseorang, hal tersebut di pengaruhi oleh faktor keturunan, pergaulan, dan lingkungan hidup, juga tak lupa sebuah asupan nutrisi kedalam tubuh.
Tetapi hal tersebut tidak bisa di jadikan sebagai patokan, karena terkadang usia tidak bisa di jadikan landasan bagi kemampuan psikis seseorang, hal tersebut di pengaruhi oleh faktor keturunan, pergaulan, dan lingkungan hidup, juga tak lupa sebuah asupan nutrisi kedalam tubuh.

