Kalimat yang ke tiga adalah kalimat Haraf, kalimat haraf menurut lughot yaitu attahrif yang artinya pinggir, dan menurut istilah kalimat haraf adalah "kalimatun dallat a'la ma'na fi ghoiriha", yang artinya kalimat yang menunjukan arti pada diri yang lainnya, yang di maksud pada pengertian di atas adalah bahwa haraf itu hanya bisa memberi arti apabila haraf ini di sandingkan dengan kalimat yang lainnya, seperti pada kata min masjidi, di dalam kalimat tersebut ada kalimat haraf yaitu kata min yang memiliki arti ibtidaiyyah atau awalan, seperti contoh tersebut, arti awalan ini timbul saat min di sandingkan dengan lafadz masjidi, berbeda ketika lafadz min ini sendiri, tanpa di sandingkan dengan kalimat lainnya, seperti pengucapan min yang artinya ke, maka kata itu tidak mendatangkan arti atau pemahaman, juga kalimat haraf dapat di bedakan dengan kalimat isim dan fi'il dengan ciri adami (ketiadaan), mengapa haraf di beri ciri adami, sedangkan sesuatu yang ada tidak bisa di beri ciri oleh ketiadaan, maka pada pembahasan adami ini ulama membaginya kedalam 2 bagian, yaitu adami mutlaq (tidak ada sama sekali) dan adami muqoyyad (yang di kecualikan), dan yang di jadikan ciri pada kalimat haraf ini yaitu adami muqoyyad, yang di maksud muqoyyad di sini berarti kalimat haraf tidak menerima ciri kalimat isim, dan juga tidak menerima ciri kalimat fi'il, atau dalam kata lain pada kalimat haraf tidak terdapat ciri isim yang empat dan ciri fi i'l yang empat
Dan pada kesempatan selanjutnya, mushonif atau pengarang akan mengganti materi pembahasannya dengan pembahasan i'rob,
( Bab I'rob )
matan kitab :
(babul i'robi)
arti matan :
bab yang menerangkan i'rob
penjelasan matan :
Pada pembahasan selanjutnya, akan di jelaskan tentang i'rob, dan sebelumnya dalam kata babul ini memiliki beberapa posisi atau kedudukan, bisa di baca rofa' nasob' dan kasroh. ketika babul ini di baca rofa' kedudukannya bisa menjadi khobar dari mubtada yang di mukoddar (yang di kira-kirakan), yang taqdirnya seperti ini "hadza babul i'robi", (ini adalah bab i'rob) dan bisa menjadi mubtada yang khobarnya di buang seperti pada kalimat "babu hadza maudiu'hu". (bab ini adalah tempatnya) dan ketika di baca nasab kedudukannya sebagai maf'ul bih dari fi i'l fa i'l yang di muqoddar, seperti pada lafadz "a'ni babal i'robi", (aku bermaksud pada bab i'rob) dan ketika di baca jeer di sana tengah mengira-ngirakan haraf jar, tetapi qoul ini di ragukan, sebab haraf jar tidak bisa a'mal sedangkan dirinya di buang, yang taqdirnya seperti ini, "undzur fi babil i'robi",
Dan arti kata i'rob ini memiliki beberapa ma'na atau arti, salah satunya adalah tahsin yang artinya membaguskan, seperti pada kata "jariyatun a'rubun", yang artinya hamba sahaya wanita yang bagus (cantik), dan arti yang kedua adalah tabyin yang artinya menjelaskan, seperti pada ucapan tsaibun ta'rubu a'n nafsiha, artinya seorang janda menjelaskan, memperlihatkan /menampilkan dirinya, dan arti yang ketiga tagyir artinya berubah, seperti pada lafadz ta'rubu ma'datul ba iri, yang artinya telah berubah lubang bokongnya unta, dan dalam bab i'rob ini, di jelaskan bahwa i'rob di sini di beri ta'rif atau arti "taghyiru awakhiril kalimi likhtilafil a'wamili addzakhilati a'laiha lafdzon au taqdiron", yang artinya berubahnya keadaan akhir kalimat karena datangnya a'mil yang berbeda-beda, berobah di dalam ucapannya, ataupun berubah di dalam perkiraannya.
Dan pada keadaannya, i'rob ini terbagi kedalam i'rob lafdi dan i'rob ma'nawi, yang di katakan i'rob lafdzi di sini yaitu nafsul harokati dhommuha, fathuha, kasruha,. yaitu bentuk harokat itu sendiri seperti dhommahnya, fathahnya, kasrohnya. pada penjelasan i'rob lafdzi ini mushonif mengartikannya sebagai ciri dari i'rob itu sendiri, sedangkan yang di sebut dengan i'rob ma'nawi adalah taghyiru awakhiril kalimi likhtilafil awamili addakhilati alaiha lafdzon au taqdiron, yang artinya berubahnya akhir kalimat-kalimat karena berbedanya amil ( yang memerintah ), yang masuk kedalam kalimah tersebut, baik berubah dalam ucapan atau berubah dalam perkiraannya.
lalu sebagai contoh i'rob itu seperti pada contoh lafadz Zaidun qoimun, lafadz tersebut adalah contoh kalimat yang tengah di i'robkan, yang mana lafadz zaid di sana merupakan kalimah yang berubah akhirnya sebab di datangi a'mil yaitu ibtida, sehingga dirinya di rofa'kan, dan contoh kedua yaitu roaitu zaidan, lafad zaid di sana merupakan kalimah yang tengah berubah akhirnya, karena di datangi oleh lafadz roaitu, ( fi i'l dan fa i'l ), maka dirinya di nasabkan sebab tengah menjadi maf u'l dari lafadz roaitu, contoh ketiga yaitu marortu bi zaidin, contoh tersebut pada lafad zaid merupakan kalimat yang tengah di i'robkan, yang mana dirinya tengah di i'robi dengan i'rob khofad, hal tersebut karena lafadz zaid di datangi oleh haraf jar Ba, selaku a'mil yang memerintah khofad pada lafadz zaid,
Dari ketiga contoh di atas telah di ketahui bahwa lafadz zaid tersebut sebelum di datangi oleh a'mil ( yang memerintah ) maka dirinya tawaqquf, atau tidak tahu di baca bagaimana, entah di jeerkan, di fathahkan atau di rofa'kan. maka setelah datangnya a'mil-a'mil tersebut, yaitu Ibtida, ja a, dan haraf Ba, maka barulah di ketahui bagaimana cara dalam mengharkati lafadz zaid ini,
