Kitab Asmawi Kalimat Fii'l

 Matan kitab :

wal fi'lu yu'rofu bi qod wassini wasaufha, wa ta itta nitsi assakinati

Arti matan :

Dan kalimah fi'il bisa di bedakan dengan kalimah isim dan haraf oleh qod harfiyyah, sin tanfis saufa taswif, ta tanits yang mati (di sukunkan)

Penjelasan Matan :

     Pada pembahasan selanjutnya mushonif akan menjelaskan tentang ciri-ciri kalimat yang kedua, yaitu kalimat fi i'l, kalimat fi i'l memiliki pengertian menurut bahasa, dan istilah, sebagaimana di terangkan di bawah ini :

1. Pengertian kalimat fi i'l

Kalimat fi i'l menurut bahasa adalah al hadats yang artinya pekerjaan \ kejadian, seperti pada kata nashoro, artinya sudah menolong, dan  qotala yang artinya sudah membunuh, dan ta'rif atau pengertian fi i'l menurut istilah adalah kalimatun dallat a'la ma'na fi nafsiha wakturinat bi ahadzil azminati tsalatsah, yang artinya kalimah yang menunjukan ma'na atau arti dirinya sendiri dan di barengi oleh zaman yang tiga, seperti contoh nashoro, di sana menunjukan arti dirinya sendiri, yaitu menolong, juga di barengi oleh waktu sudah terlewat, karena dalam fi i'l itu terdapat 3 zaman atau waktu, yaitu pertama, waktu sudah terlewat, yang di sebut zaman madhi, yang kedua waktu yang tengah terjadi, yang di sebut zaman hal, dan yang ketiga, waktu yang belum terjadi, yang di sebut zaman istiqbal.
setelah kita tahu tentang pengertian kalimat fi i'l, pada pembahasan kedua mushonif akan menerangkan tentang ciri-ciri kalimat fi i'l, sebagai berikut :

2. Ciri Kalimat fi'il

Ciri yang menjadi sebuah pembeda antara kalimat fi i'l dan haraf, semuanya terangkum kedalam 4 ciri, yaitu qod harfiyyah, sin tanfis, saufa taswif, dan Ta ta nits yang sukun, dan keempat ciri tersebut akan di jelaskan di bawah ini :

  • qod harfiyyah, lafadz qod menjadi sebuah ciri bagi kalimat fi i'l seperti pada ucapan qod koma zaidun, yang artinya nyata telah berdiri ki zaid, pada ucapan tersebut contoh qod yang bersanding pada kalimat fi i'l madhi, dan pada pembahasan qod ini yang menjadi ciri bagi kalimat fi i'l di sebut qod harfiyyah, sebab adapula qod ismiyyah, yaitu qod yang menempel pada kalimat isim seperti pada contoh "qod zaidun dirhamun" yang artinya menghitungnya ki zaid adalah pada dirham, lafadz qod di sana memiliki berbagai ma'na atau arti, dan arti qod ini bermacam macam, sesuai dengan kalimat apa dirinya bersanding, dan akan di jelaskan satu persatunya, 
- qod apabila bertemu dengan kalimat fi i'l madhi, maka akan memberikan ma'na littahqiq dan littaqrib, (menyatakan dan mendekatkan). seperti pada contoh qod koma zaidun yang artinya nyata telah berdiri ki zaid, dan pada contoh qod komatissholah, yang artinya telah dekat berdirinya sholat, 

 - qod apabila bertemu dengan fi i'l mudhori maka dirinya mendatangkan ma'na littaqlil dan littaksir, menyedikitkan dan membanyakan, seperti pada contoh qod yajuudu albakhilu, yang artinya terkadang dermawan sesorang yang pelit, dan seperti pada contoh qod yajuudu alkarimu, yang artinya sering memberi orang yang dermawan, 

  • sin tanfis, sin tanfis memiliki sebuah kegunaan selalu mengakhirkan ma'na zaman fi i'l mudhori, yang pada asalnya fi i'l mudhori itu mempunyai arti zaman hal dan istiqbal, tetapi ketika fi i'l mudhori di datangi sin tanfis maka dirinya hanya memberi arti waktu yang akan datang, seperti pada contoh saufa yakulu zaidun, yang artinya akan berkata ki zaid, 
  • saufa taswif, saufa taswif adalah yang berguna pada fi i'l mudhori untuk hanya menunjukan ma'na waktu yang akan datang, seperti pada contoh saufa astaghfiru, yang artinya nanti saya akan memintakan ampun, 
  • ta ta nits yang sukun, ta ta nits merupakan ta yang menjadi ciri atas pangkat kewanitaan fa i'l atau nai'bul fa i'l, seperti pada contoh qomat hindun, yang artinya telah berdiri nyi hindun, lafadz qoma di beri ta yang di sukunkan di akhirnya, agar di ketahui bahwa fai'l atau yang melakukan pekerjaan adalah sosok perempuan, dan timbul sebuah pertanyaan, mengapa ta tersebut tidak menempel pada fai'l atau naibul fa'ilnya, jika berguna dalam membedakan antara fa i'l muannats dan fa i'l mudzakar, jawabannya adalah sebab ta tersebut merupakan salah satu ciri bagi kalimat fi i'l, dan jawaban kedua sebab fi i'l dan fa i'l ka syaiun wahidin yang artinya seperti satu kesatuan, dan ada pertanyaan kedua, apakah ta tersebut harus sukun tidak boleh di harkati?, jawabannya adalah boleh di harkati, dengan dasar ilat (alasan), seperti pada contoh qolatil a'robu yang artinya telah berkata orang orang arab, di sana pada lafadz qolat contoh fi i'l yang di beri ta ciri kemuannatsan, tetapi dirinya di harkati dengan harkat kasroh dengan dasar alasan agar tidak bertemunya huruf sukun dua, yaitu ta ta nits, dan alif lam pada kata al a'robu, ada juga yang di harkati dengan harkat fathah seperti pada kata qolata saat fi'ilnya menunjukan dzomir tasniyyah, dan adapula yang di harkati dengan harkat rofa' seperti pada contoh wakolatukhruju , bagi ulama yang membaca kalimah tersebut dengan harkat dhomah, 
    Dan dari pembahasan ciri fi i'l di atas, alhasil ciri fi i'l terbagi kedalam 2 bagian, pertama yang musytaroq yang artinya pleksibel, bisa masuk kedalam kalimah fi'il madhi, dan masuk pada fi'il mudhori, yang kedua yang takhsis, yaitu yang di tentukan, atau yang di khususkan, adapun yang musytarok yaitu qod harfiyah, yang mana dirinya bisa masuk kedalam fi i'l madhi seperti pada contoh qod komatis sholah, dan bisa masuk kedalam fi i'l mudhore seperti pada ucapan qod yasduku al kadubu, dan yang kedua yang takhsis, yang takhsis ini berjumlah tiga, yaitu sin tanfis dan saufa tasywif keduanya yang takhsis pada kalimat fi i'l mudhori, dan yang takhsis pada fi i'l madhi yaitu ta ta nits,  seperti pada lafadz komat hindun.

Posting Komentar

0 Komentar
Posting Komentar (0)