Kitab Asmawi syarat terciptanya kalam

Qoid yang empat

yang di sebut kalam menurut ulama ilmu nahwu di sini adalah sesuatu yang terkumpul di dalamnya 4 qoid dan yang empat itu sebagai berikut :

1. lafadz

lafadz adalah koid pertama yang menjadi pembentuk kalam atau syarat dalam membangun sebuah kalam, adapun lafadz di artikan sebuah suara yang melingkupi sebagian huruf-huruf hijaiyyah yang berjumlah 28, yaitu alif, ba, ta, tsa, jim, ha, kho, dzal ,da, ro jay, sin, syin, sho, dzo, tho, dzo a'in, ghin, fha, khof, kaf, lam, mim, nun, wau, ha, lam alif, hamzah, ya. seperti pada pengucapan "zaedun", lafadz tersebut adalah sebuah ucapan yang bersuara dan mengandung huruf hijaiyyah yaitu : jay, ya, dal. 

2. Murokab

Murokkab adalah syarat kedua dalam membuat kalam, adapun pengertian murokkab ini adalah perkara yang tersusun dari dua kalimat atau lebih. setelah mengetahui ta'rif murokkab tersebut, sebagai contoh perkara atau lafadz yang tersusun dari dua kalimat seperti pada ucapan "jaedun qoimun", lafadz zaidun qoimun merupakan ucapan yang tersusun dari dua kalimat, kalimat pertama yaitu pada ucapan zaidun dan yang kedua yaitu ucapan qoimun, 

3. Mufid

Mufidz adalah syarat ke tiga dalam membuat kalam, adapun ta'rif atau pengertian mufid adalah ma afada faidatan tammatan yahsunu assuku minal mutakallimi wa samia' a'laiha yang artinya yaitu ucapan yang mendatangkan pemahaman yang sempurna, alias bagusnya diam orang yang berbicara, dan orang yang mendengarkan ( yang berbicara tidak perlu menambahkan, dan yang mendengar tidak perlu bertanya maksud yang di utarakan ) seperti pada ucapan zaidun qoimun tadi, pada ucapan tersebut telah memberi pemahaman tentang keadaan bahwa si zaed itu tengah dalam keadaan berdiri.

4. Wadho

Wadho merupakan syarat keempat dalam menciptakan kalam, dan pengertiannya adalah dapat di artikan sebagai bahasa arab, dan dapat di artikan sesuatu, atau ucapan yang di maksud. seperti ketika ada yang mengucapkan zaidun qoimun ( si zaid tengah berdiri ), maka bentuk tersebut adalah wadho karena tercipta dari bahasa arab, juga di katakan wadho sebab pengucapannya di barengi dengan kesadaran, dan tujuan yang di maksudkan, 

 

    Setelah keempat ko id atau syarat dalam membuat kalam di ketahui pengertiannya berikut contohnya, akan ada beberapa hal yang menjadi pengecualian atau yang tidak termasuk kalam, sebab tidak memenuhi syarat yang 4 atau tidak memenuhi kriteria, dan akan di jelaskan di bawah ini :

- yang keluar dari qoid pertama berjumlah 5 perkara
  • Tulisan, tulisan adalah hal yang mengandung atau mencakup kumpulan huruf-huruf hijaiyyah, tetapi tidak bisa di katakan lafadz sebab tulisan tidak bersuara.
  • Isyarat, isyarat pun tidak termasuk pada lafadz, sebab tidak mengandung susunan huruf hijaiyyah, begitupun tidak bersuara, meskipun memberikan pemahaman.
  • Tanda, tanda yang di maksud ini seperti sebuah tiang yang di tancapkan sebagai batas atau apapun itu, hal tersebutpun tidak termasuk pada lafadz sebab tidak sesuai dengan ta'rif lafadz meskipun memberikan pemahaman.
  • Ikatan, ikatan pun di keluarkan dari koid lafadz sebab meskipun mampu mendatangkan pemahaman, seperti halnya mengikat hewan sebagai tanda ada yang memiliki, hal tersebut tidak termasuk sebagai lafadz sebab tidak sama dengan ta'rif lafadz
  • Tingkah laku, tingkah laku adalah hal yang memberi pemahaman, namun tidak termasuk kedalam lafadz, sebab tidak bersuara dan juga tidak mencakup susunan huruf hijaiyyah
 - yang keluar dari koid kedua berjumlah 2 perkara 
  • Ucapan mufrod, sebab kata mufrod di sini adalah bentuk satuan yang bukan susunan seperti halnya mengucapkan zaidun, satu kata tersebut bukan murokkab sebab bukan bentuk susunan.
  • Isim a'dad atau bentuk kata bilangan seperti isnaen (dua), tsalasatun (tiga), arbaa'tun (empat), kata kata tersebut bukan lah murokkab meskipun menunjukan susunan angka, sebab yang di katakan murokkab adalah bentuk susunan kalimat.
- yang keluar dari koid ketiga berjumlah 4 perkara
  • Murokkab tarkib idofi, murokab tarkib idofi seperti dalam contoh ucapan a'bdullohi, merupakan bentuk idofat, sandingan dua lafad yaitu lafadz a'bdun, dan Allah, gabungan tersebut meskipun sebuah susunan dua kalimat, tetapi dirinya tidak bisa di masukan kedalam mufid, sebab lafadz tersebut tidak memberikan sebuah pemahaman, tetapi pada bentuk tersebut, tidak memberi pemahaman itu ketika belum di pakai sebuah nama bagi sosok manusia, adapun jika lafadz tersebut di jadikan nama seseorang, maka murokkab ini bisa mendatangkan sebuah pemahaman bahwa seseorang itu bernama Abdulloh,
  • Murokkab tarkib madzi, murokkab tarkib madzi merupakan susunan kalimat yang di gabungkan, yang mendasar pada asal usul sebuah penamaan, seperti pada ucapan ba labaka, ucapan tersebut merupakan susunan atau penggabungan dari lafadz ba'lun (kampung) dan bakun (berhala), maka kata gabungan ini, tidak termasuk kedalam mufid, sebab tidak memberi pemahaman, meskipun merupakan kalimat yang tersusun.
  • Takyidi, takyidi bisa di artikan sebagai kalimat pembeda yang sifatnya mengikat, seperti pada pengucapan "hayawanun naatikun" yang artinya hewan yang berbicara, pada kata tersebut tidak bisa memberi pemahaman meskipun bentuk susunan antara dua kalimat yaitu hayawan dan natik.
  • Murokkab tarkib isnadi, Murokkab tarkib isnadi merupakan sebuah susunan kalimat atau hasil penggabungan beberapa kalimat yang sifatnya saling menyandarkan seperti pada ucapan in koma zaidun, maka pada pengucapan tersebut apabila di artikan adalah "apabila si zaid berdiri", maka ucapan tersebut tidak akan mendatangkan pemahaman sempurna, sebab nantinya akan menimbulkan sebuah pertanyaan "apabila zaid berdiri akan bagaimana?"

- yang keluar dari koid keempat berjumlah 2 (di sesuaikan dengan bagaimana pengartiannya)

  • Apabila wadho ini di beri arti Bahasa Arab, maka yang tidak termasuk kedalam wadho adalah bahasa selain Arab, seperti bahasa indonesia, bahasa inggris, bahasa turki, bahasa cina,  dan sebagainya.
  • Apabila wadho ini di artikan sebagai yang di maksud pengucapannya, maka yang tidak termasuk wadho adalah ucapan yang tidak di maksud pengucapannya, atau tidak di sengaja, seperti ucapan orang gila, ucapan orang yang tengah mengigau, ucapan orang yang latah, dan sebagainya.
Sebelumnya-Lanjut ke Hal 6
 

Posting Komentar

0 Komentar
Posting Komentar (0)