Kitab Asmawi Asal kata qoid yang 4 dan pembagian juz kalam

    Setelah kita bahas koid yang empat, dan mengetahui beberapa hal yang tidak termasuk kedalam qoid yang empat tadi, di sini juga akan di singgung seputar asal-usul penamaan qoid yang empat tadi, 

    Dan untuk koid yang pertama, yaitu lafadz, dirinya berasal dari kata lafdzun yang berarti menaburkan, atau melempar, lalu di adaptasilah kata tersebut, kedalam sebuah penamaan suatu aktifitas manusia yaitu lafdzun yang berarti ucapan, sedangkan dalam kegunaannya lafadz ini di gunakan oleh ulama ahli nahwu sebagai sebuah ucapan yang meliputi untaian haraf hijaiyyah, 

    Dan untuk yang kedua, yaitu murokkab, asal kata dari tarkib yang artinya susunan, susunan tersebut baik yang sifatnya permanen ataupun yang sementara, lalu di adaptasilah kata murokkab (yang tersusun), oleh ulama ahli nahwu, yang berarti murokkab adalah bentuk susunan kalimat,

    Dan untuk yang ketiga, yaitu Mufid, asal kata mufid adalah faydun yang berarti memperbarui harta dan kebaikan, dan bisa di artikan sebagai sesuatu perkara yang keadaannya lebih baik dengan perkara tertentu, di bandingkan dengan perkara yang lainnya. seperti contoh sosok wanita lebih cantik ketika menggunakan hijab, dari pada menggunakan peci. lalu kata tersebut di adaptasi kedalam istilah keadaan perkara yang menciptakan sebuah pemahaman yang baik, oleh ulama ahli nahwu

    Dan adapun wadho berasal dari kata wadoa' yang mempunyai arti melahirkan, seperti seorang perempuan melahirkan anak, dan ada pula yang mengartikan gugur, maka dalam pemakaiannya oleh ilmu nahwu kata wadho di sini mempunyai ma'na menjadikan sebuah lafadz agar menunjukan pada ma'na atau pemahaman. 

    Di sini sudah cukup tentang pembahasan singkat seputar qoid yang empat tadi, dan pada pembahasan selanjutnya adalah hal yang menyangkut pada pembahasan seputar juz pembangun kalam, adapun juz yang menjadi pembangun terciptanya kalam, semuanya berjumlah tiga, yaitu kalimat isim, fi'il dan haraf, pembahasan ketiga kalimat ini akan di perinci satu persatunya, 

1. Kalimat isim

Dalam pembahasannya kalimah ini akan mencakup pada 5 pembahasan, yaitu tentang ma'na lafadz, atau kata isim itu sendiri, dan kedua, pembahasan istiqoq (asal kata) kalimat isim, ketiga, hukum kalimat isim, keempat, pembagian kalimat isim, kelima, ciri-ciri kalimat isim, dan dalam mengartikan kata isim ini, dapat di artikan secara bahasa dan istilah,
  • Isim menurut bahasa, adapun yang di sebut isim menurut bahasa adalah, sesuatu yang menunjukan pada yang di namainya, seperti kata zaid, zaid adalah sesuatu yang menunjukan pada sosok manusia yang di namai dengan nama tersebut,
  • Isim dalam istilah ulama ahli nahwu yaitu kalimat yang menunjukan sebuah ma'na dirinya sendiri, dan tidak di barengi oleh waktu dalam penyebutannya. seperti pada kata zaid, di sana merupakan bentuk kalimat isim, sebab menunjukan pada arti atau ma'na pada dirinya sendiri, yang mana ma'na zaid ini adalah dzat yang berbentuk, yang di tentukan, yang terlihat secara nyata, juga tidak menunjukan arti waktu. 
Dan dalam pembahasan keduanya yaitu seputar istiqoq kalimat isim
  • Istiqoq atau asal kata lafadz isim adalah dari lafadz sumwan, yang berarti keluhuran, pendapat tersebut di kemukakan oleh para ulama Basroh
  • sedangkan menurut ulama kuffah, kata isim berasal dari kata simmatun, yang berarti ciri, di katakan seperti itu, sebab kalimat isim adalah sesuatu yang senantiasa di jadikan sebuah ciri untuk sebuah benda atau menjadi pembeda dan penentu bagi sesuatu.
Pembahasan yang ketiga adalah seputar hukum kalimat isim, 
  • adapun hukum kalimat isim adalah di mu'robkan, apabila ada kalimat isim yang di mabnikan, maka itu keluar dari hukum asalnya
Pembahasan keempat adalah seputar pembagian kalimat isim 
  • Kalimat isim terbagi menjadi tiga bagian
  1. Isim dzohir, isim dzohir adalah kalimat isim yang menunjukan pada sesuatu yang di namainya tanpa menggunakan kata ganti yang lainnya, contoh lafadz zaidun, lafadz zaidun menunjukan pada seseorang yang di beri nama zaid, tanpa menggunakan kata ganti seperti dia, kamu, dan dirinya.
  2. Isim mudhmar, isim mudhmar adalah bentuk kalimat isim yang menunjukan pada sesuatu yang di namainya dengan menggunakan kata ganti, seperti, kata kamu, dia, mereka, dirinya, dan isim dzomir ini semuanya apabila di perinci menjadi jumlah 14 isim dzomir
  3. Isim mubham, isim mubham adalah bentuk kalimat isim yang samar atau tidak jelas apa yang di tunujukannya, seperti kata ini, itu, di sana, dan di sini.
Pembahasan kelima adalah seputar ciri-ciri kalimat isim.
  • ciri kalimat isim yaitu ada 4 sebagai berikut :
- di khofadkan atau menerima harkat kasroh

- menerima tanwin

- di masuki alif lam 

- di masuki oleh haraf khofad atau huruf yang memiliki kegunaan mengkasrohkan kalimat isim

itulah pembahasan kalimat isim secara sepintas namun mampu menjadi gambaran besar untuk pembahasan lebih lanjut yang akan di muat dalam pembahasan di depan. 


Sebelumnya-Lanjut ke Hal 7

 

Posting Komentar

0 Komentar
Posting Komentar (0)