2. Kalimat fi i'l
Pada pembahasan selanjutnya adalah sesuai dengan susunan kalimat yang keduanya, yaitu kalimat fi'il, kalimat fi'il merupakan bentuk kalimat yang berbeda karena menunjukan kata kerja, adapun dalam pembahasannya mencakup pada 5 pembahasan sebagai berikut :
Ma'na kalimat fi'il
- Ma'na atau arti dari kalimat fi'il ada menurut bahasa dan menurut istilah, dan kata fi'il menurut bahasa yaitu pekerjaan, atau sebuah kejadian seperti kata nasoro (sudah menolong) faroha (telah bahagia)
- ma'na fi'il menurut istilah yaitu kalimat yang menunjukan pada arti dirinya sendiri, dengan di barengi oleh waktu dalam penyebutannya, waktu yang terkandung dalam kalimat fii'l ada 3 yaitu madhi, (yang terlewat) hal (yang sedang terjadi) istiqbal (yang akan datang ), sebagai contoh kalimat isim yang mengandung ma'na waktu madhi seperti nasoro (sudah menolong), yang mengandung ma'na zaman hal seperti yansuru (sedang menolong/akan menolong), yang mengandung ma'na zaman istiqbal seperti unsur (tolonglah).
- Pengambilan kata fi'il berasal dari kata fa'lun yang artinya pekerjaan yaitu bentuk isim masdar atau sighot isim masdar, pendapat ini menurut ulama Kuffah, sedangkan menurut ulama basroh kata fii'l berasal dari fa'ala, yaitu bentuk sighot fi i'l madhi, pendapat ini menurut ulama Basroh.
- Hukum asal kalimat fii'l adalah di mabnikan, apabila ada bentuk kalimat fiil yang di i'robkan maka itu keluar dari hukum asal.
- Kalimat isim terbagi menjadi 3 yaitu fi i'l madhi, fi i'l mudhore, dan fi i'l amar
- kalimat isim mempunyai 4 ciri yaitu
- Qod harfiyyah seperti pada ucapan "kod komatissholah"
- Sin tanfis seperti pada ucapan "sayakulu"
- Saufa taswif seperti pada ucapan "saufa yakumu"
- Ta ta nis seperti pada ucapan "komat"
Itulah seputar pembahasan kalimat fi'il yang di ringkas, dan untuk penjelasan selanjutnya akan di perinci pada pembahasan di depan.
3. Kalimat Haraf
Dan kalimat yang ketiga adalah kalimat haraf, yang sama memiliki 5 pembahasan sebagai berikut:
Ma'na kalimat haraf
- Menurut lughot kata haraf artinya pinggir, sedangkan menurut istilah yaitu kalimat yang menunjukan arti pada selain dirinya sendiri. atau dalam kata lain haraf hanya mampu mendatangkan arti jika di sandingkan dengan kalimat sebelumnya, yaitu isim dan fi'il.
- Asal kata haraf di ambil dari kata tahrif yang artinya di samping atau pinggiran, di ambil dari kata tersebut sebab kalimat haraf selalu berada di posisi samping kalimat lainnya,
- Adapun hukum kalimat haraf adalah di mabnikan,
- Kalimat haraf terbagi kedalam 3 bagian, yaitu :
- yang di khususkan bagi kalimat isim seperti haraf khofad
- yang di khususkan bagi kalimat fi'il seperti haraf amil nawasib, dan amil jawazim.
- yang dapat masuk bagi keduanya seperti haraf berupa kata bal, dan hal (huruf istifham)
contoh haraf bal yang masuk pada kalimat isim seperti "jaedun lam yakum bal a'mrun koimun"
contoh haraf bal yang masuk ke dalam kalimat fii'l, seperti lafadz "bal ja ahum"
contoh haraf hal yang masuk pada kalimat isim seperti lafadz "hal zaidun ko imun"
contoh haraf hal yang masuk pada kalimat fii'l seperti lafadz "hal yakumu zaidun"
- Kalimat haraf ini tidak memiliki sebuah ciri atau bisa di katakan ciri haraf itu adalah Adami ( yang tidak ada ), dan yang di maksud Adami di sini, bukan berarti tidak ada sama sekali, melainkan dirinya tidak menerima ciri kalimat isim, dan ciri kalimah fii'l. sedangkan ciri dirinya sendiri tidak demikian, seperti halnya huruf Ba yang terdapat titik satu di bawahnya, huruf ta yang terdapat titik dua di atasnya.
Dan pada susunannya mengapa kalimat haraf ini di akhirkan, jawabannya adalah, hal itu di sebabkan bahwa kalimat haraf mempunyai ciri Adami yang tiada, sedangkan kalimat yang lainnya memiliki ciri wujudi yang ada, maka menurut para Ulama Wujudi lebih mulia dari pada Adami, sebagaimana orang yang masih hidup lebih mulia dari pada yang telah tiada, maka dari itu yang mulia di tempatkan di tempat yang mulia dan yang hina di tempatkan di tempat yang terhina.
