Perbedaan tanwin tersebut akan di perinci di bawah ini :
1. Tanwin tamkin, tanwin tamkin adalah tanwin yang terdapat pada seluruh kalimat isim yang mu'rob (yang di i'robkan) dan kalimat isim yang di maksud di i'robkan ini adalah setiap kalimat isim yang dapat berubah akhir kalimatnya, dari kasroh, ke nasab, dari nasab, ke rofa'. seperti pada pengucapan zaidan, zaidin, zaidun, tanwin pada akhir kata zaid ini di namakan tanwin tamkin.
2. Tanwin Tankir, tanwin tankir adalah tanwin yang terdapat pada kalimah isim yang di mabnikan (yang tidak dapat berubah harkat akhirnya), dan tanwin ini yang menjadi pembeda antara mana kalimat isim yang ma'rifat (khusus), dan mana kalimat isim yang nakiroh (umum). seperti pada ucapan "Sibawaihin", sibawaihin adalah kalimat isim yang Mabni, yang tidak akan berubah harkat akhirnya, meski di datangi oleh sebuah a'mil yang memerintah rofa', nasob, dan jeer, dirinya tetap di baca sibawaihin, dan jika kata sibawaihin itu di tanwinkan, maka kata itu menuju pada seluruh manusia yang di namai dengan nama sibawaih, sedangkan apabila tidak di tanwinkan, di khususkan pada sosok ulama terdahulu yang ahli dalam bidang ilmu nahwu. atau nama satu ulama bernama sibawaih
3. Tanwin Muqobalah, tanwin muqhobalah adalah tanwin yang terdapat dalam kalimat isim yang berbentuk kalimat jama' muannats salim, seperti pada kata "Muslimaatin", lafadz muslimaatin di sana pada akhirnya di tanwinkan, dan tanwin itu di namakan tanwin muqobalah, sebab tanwin tersebut posisinya bertepatan dengan nun pada lafadz jama' mudzakar salim, yaitu lafadz muslimuuna
4. Tanwin i'wad, tanwin i'wad adalah tanwin yang terdapat pada lafadz hina idin, dan bisa di katakan tanwin yang menjadi pengganti, entah itu pengganti dari posisi jumlah, atau pengganti dari satu huruf yang di buang, atau yang di hilangkan, seperti pada kalimat hina idzin tandzurun, yang mana asal kalimat tersebut adalah "hina idz balaghotirruhul khulkum wa antum tandzurun", maka jumlah pada lafad balaghotirruhul khulkum di buang, lalu di gantikan oleh pengucapan tanwin dalam ucapan idz jadi hina idzin tandzurun, dan yang kedua tanwin ini menjadi pengganti dari satu huruf yang di buang, seperti pada lafadz jawarin, pada pengucapan jawarin ini ada tanwin di akhirnya, yang mana dirinya menjadi pengganti dari satu huruf yaitu iya, yang pada asalnya lafadz jawarin ini yaitu jawariyun.
jadi setelah kita membahas perbedaan dari keempat tanwin tadi, sudah di pastikan setiap kalimat yang dapat di tanwinkan adalah bentuk dari kalimat isim, bukan fii'l, atau haraf.
- Alif lam
Ciri isim yang ketiga adalah alif lam, seperti pada contoh pengucapan "Al masjidu", lafadz al masjidu di ketahui sebagai kalimat isim sebab di sana terdapat alif lam, dan apabila di bahas lebih panjang, alif lam ini terbagi kedalam beberapa bagian, seperti pada saat masuk kedalam kalimat ini, maka alif lamnya memberi ma'na litta'rif, yang menjadikan lafadz masjid ini di khususkan, bukan bentuk umum lagi, adapula alif lam yang bermakna lil ahdi dihni, alif lam lil ahdi dzikri, alif lam lil istighroq,
- Huruf khofad
Ciri isim yang keempat adalah huruf khofad, huruf khofad adalah huruf-huruf yang memiliki kegunakan dalam memerintah kasroh pada kalimat isim, dan jumlah huruf khofad itu ada 12, yaitu sebagai berikut : min-ila-a'n,-a'la-fi-rubba-ba-khaf-lam-dan haraf qosam, wawu-ba-ta, adapun yang pertama yaitu
- Haraf jar min, min memiliki ma'na ibtidaiyyah, yang berarti menjadi awalan sesuatu, ibtidaiyyah terbagi kedalam ibtidaiyyah makani, dan ibtidaiyyah zamani, yang di sebut ibtidaiyyah makani ialah yang bersangkut paut pada hal yang berkaitan dengan sebuah tempat, seperti pada pengucapan "Sirtu minal basroti ilal kuffati", yang artinya aku berjalan dari kota basroh menuju kuffah, yang di maksud ibtida zamani ialah, yang bersangkut paut dengan waktu seperti pada ucapan "Sirtu min yaumil khomisi ila yaumil jum'ati", yang artinya aku berjalan dari hari kamis hingga hari jum'at,
- yang kedua adalah ila, ila mempunyai arti intihail ghoyah, ma'na ini berarti ujung dari sesuatu, seperti pada ucapan ilal kuffati, lafad ila bertemu dengan kuffati, itu menunjukan bahwa dirinya berjalan sampai ujung pada hari jum'at atau penghujung perjalannya itu hari jum'at.
- yang ketiga adalah a'n, a'n memiliki arti mujawazah, mujawazah di sini berarti melewati, jika dalam bahasa di artikan sebagai jauh atau bu'du, tetapi jika di artikan menurut istilah adalah "ba'uda syai in a'nil majruri biha, bitawassuti masdaril fi'li". yang artinya menjauhkan sesuatu dari hal yang di jeerkan oleh a'n dengan pelantaraan sebuah masdar fi'il. seperti pada kata romaetussahma a'nil qousi, yang artinya aku melemparkan panah dari busurnya, hal itu di maksud dengan mujawazah, dalam ucapan tersebut di ketahui bahwa di sana menjauhkan sahma (panah) dari kousi (busur) dengan sebuah pelantaran lafadz roma (masdar fi'il)
- haraf khofad yang keempat yaitu a'la, ala memiliki ma'na isti'la yang berarti al u'luw wal irtifa' yang artinya luhur, jika menurut istilah isti'la itu adalah "tafuku syai'in a'la majruri biha" yang artinya meluhuri sesuatu di atas yang di jeerkan oleh a'la, seperti pada contoh soi'dtu a'lassuthi, yang artinya aku naik ke atas loteng, kata tersebut menunjukan ma'na meluhuri orang yang naik ke atas sebuah loteng,
- dan yang ke 5 dari haraf khofadz adalah fhi, fhi di sini memiliki arti dzorfiyyah, yang artinya al wia' yang artinya wadah, sedangkan dzorfiyyah menurut istilah adalah sebagaimana yang di kemukakan oleh pengarang kitab khulasoh "dzorof adalah isim yang menunjukan tempat dan waktu, yang menyimpan ma'na fhi". seperti pada kalimat "sumtu yauman", yang artinya saya puasa dalam satu hari, dan jika di perpanjang dzorfiyaah ini terbagi menjadi 2, yaitu :
1-dzorfiyyah haqiqiyyah
2-dzorfiyyah majaziah,
Dan yang pertama di sebut dzorfiyyah haqiqiyah, yang di maksud dengan dzorof tersebut adalah apabila terdapat 2 syarat, sebagai berikut :
1- dzorof (selaku wadah) harus mampu menampung,
2- madruf (yang di wadahi) membutuhkan tempat atau wadah,
Seperti contoh pada kalimat "al mau' fil kuji", yang artinya air di dalam kendi, dalam ucapan tersebut air selaku madruf butuh terhadap wadah, dan kendi selaku wadah menampung terhadap air,
yang kedua dzorof majaziyah, yang di maksud dengan dzorof terseabut adalah apabila tidak ada syarat yang dua tadi, atau tidak ada salah satu syarat yang dua tadi, seperti pada contoh "alkhoeru fil ilmi" artinya kebaikan di dalam ilmu, (tidak ada kedua syarat) dan "jaedun fil bariyyah" artinya jaed di dalam daratan (yang tidak ada syarat ke 1) dan lafadz "al ilmu fissudur" artinya ilmu di dalam dada (yang tidak ada syarat ke 2).
dan yang ke 6 dari haraf khofad adalah rubba, rubba memiliki ma'na 2, yaitu :
- littaqlil,
- littaqsir,
contohnya seperti pada ucapan "rubba rojulin karimin laqituhu", artinya sedikit / banyak lelaki dermawan yang aku temui, pada kata tersebut lafadz rubba menjeerkan lafadz rojulin, dan dirinya menyimpan dua makna, sedikit dan banyak, juga dalam amalnya lafadz rubba ini harus mempunyai 5 syarat, sebagai berikut :
- Rubba harus di simpan di awal kalam
- yang di jeerkan olehnya harus lafadz Nakiroh (umum)
- lafadz Nakirohnya harus di beri sifat yang terbuat dari jumlah
- dan Amilnya harus di sebut di akhir kalam
- dan Amilnya ini harus terbuat dari fi'il madhi
dan yang ke 7 dari haraf khofad adalah Ba, ba memiliki ma'na ta'diyyah, ta'diyyah pun terbagi kedalam 2, ada yang di sebut ta'diyyah ammah (umum) ada ta'diyyah khossoh (khusus), pada pengertian keduanya sebagai berikut :
- Ta'diyyah ammah berarti apabila pekerjaann sampai kepada yang di kerjakan, seperti pada ucapan "dhorobtu zaidan" yang artinya aku memukul ki zaid, pada ucapan tersebut pekerjaan memukulnya mutakallim (yang berbicara) sampai pada yang di pukulnya, yaitu zaid
- Ta'diyah khosoh berarti apabila fa i'l berubah menjadi maf'ul, seperti pada contoh marortu bi zaidin, lafadz marortu bi zaidin yang menjadi maf'ul di sana adalah lafadz zaidin, yang pada asalnya merupakan bentuk fa i'l (yang melewat), yang berubah akibat haraf jar ba, berubah menjadi mafu'l, (yang di lewati).
- harus ada "musabbah" (yang di serupakan) dalam contoh di atas yaitu kata zaidunnya
- harus ada "musabbah bih" (yang di serupai) dalam contoh di atas yaitu kata badri dan khimari (bulan dan keledai)
- harus ada "musabbih" (yang menyerupakan) yaitu orang yang berbicara
- harus ada "a'dat tasbih"' (alat untuk menyerupakan) di atas yaitu khaf
- harus ada "wajah tasbih" (alasan di serupakan) dalam contoh di atas yaitu ketampanan dan kebodohan.
- pertama yang khusus pada isim dzohir, seperti pada contoh wallohi demi allah,
- dan ada yang bisa masuk pada isim dzohir dan isim mudmar seperti ba dalam contoh billahi , bihi (demi Allah, demi dia),
- dan ada yang di khususkan untuk lafadz Allah saja yaitu ta seperti pada contoh tallohi, (demi Allah)
